Posts

Khadijah ra Teladan Perempuan Pengusaha

Oleh: Achmat Hilmi Lc., MA.

Khadijah binti Khuwailid adalah perempuan bangsawan yang dicatat sejarah sebagai pendukung utama dakwah Nabi Muhammad Saw. Khadijah lahir pada tahun 555 M dan wafat pada tahun 619M. Usianya terpaut lima belas tahun lebih tua dari usia Nabi Muhammad Saw. Menurut Ibnu Hisyam, Khadijah merupakan seorang saudagar ternama  di Makkah, meskipun banyak pengusaha laki-laki kala itu yang juga berniaga antar wilayah di Jazirah Arab hingga Afrika Utara dan Parsia- di Asia Tengah. Belum tersedia data yang mengkalkulasi kekayaannya. Namun berbagai referensi sejarah menggambarkan, rombongan dagang milik Khadijah merupakan kafilah terbesar di Makkah kala itu.

Sebelum diangkat sebagai Nabi dan Rasul, Muhammad merupakan salah satu pimpinan rombongan dagang milik Khadijah yang dikirim ke pasar-pasar antar benua hingga ke Persia. Kepandaian Khadijah  dalam mengelola usaha diperkenalkannya kepada masyarakat kota Mekkah, baik laki-laki maupun perempuan. Jika digambarkan masa kini, Khadijah telah berhasil pembangunan jiwa enterprenership, sehingga terbentuklah mitra-mitra dagangnya di berbagai titik persinggahan budaya di luar kota Mekkah. Khadijah dipercaya sebagai pelaku “ekspor-impor” antar benua, mengantarkan barang-barang dagangannya ke berbagai pasar di wilayah kerajaan Persia yang menjadi pusat perdagangan internasional dan lintasan jalur sutera di Timur Tengah.

Khadijah memang memiliki modal berupa materi kekayaan yang besar. Namun sebenarnya aset penting Khadijah adalah kecerdasan, keuletan dalam mengelola usaha dengan memilih para pekerja yang jujur dan pandai bersosialisasi, antara lain seorang pemuda, bernama Muhammad bin Abdullah. Kepadanyalah Khadijah mempercayakan pengelolaan bisnisnya di luar Makkah, menjaga mitra-mitra dagangnya.  Khadijah memiliki kendali dan pengaruh terhadap jaringan-jaringan bisnisnya di level lokal, dan global (Mekkah, Yemen, dan Kerajaan Persia) yang  dikembangkan berkat bantuan seorang “CEO” Muhammad bin Abdullah.

Pada pertengahan millenium pertama masehi, menjadi perempuan pebisnis bukanlah perkara mudah, di tengah budaya patriarki yang sangat kuat di kalangan masyarakat Arab, suku-suku di Afrika Utara, Persia, Yunani, dan sekitarnya. Secara umum posisi perempuan sangat lemah dan tidak diperhitungkan. Kepimpinan perempuan dalam bidang ekonomi tampaknya bukanlah hal yang lazim dan hampir tidak bisa diterima oleh banyak masyarakat, terutama masyarakat Arab Badui dan tradisi Persia. Karenanya jarang  perempuan memegang peranan penting dalam dunia usaha ,terlebih di Mekkah dan di wilayah Persia.

Namun sosok Khadijah dalam kegiatan bisnis besar dipandang sebagai bentuk perlawanan atas tradisi dan cara pandang masyarakat kala itu. Sebab secara kontras sering digambarkan perempuan hanya bekerja di kebun kurma atau menggembala kambing dan unta.

Pernikahan Kanjeng Nabi Muhammad Saw dengan Khadijah dicatat sejarah sebagai peristiwa yang berlawanan dengan tradisi Arab; Pertama, perempuan melamar laki-laki. Khadijah melamar Muhammad melalui sahabatnya Nafisah. Kedua, usia pernikahan Nabi dan Khadijah terpaut jauh. Nabi menikah pada usia 25 tahun sementara Khadijah telah berusia 40 tahun. Ketiga, Nabi menikahi seorang janda, sebuah sikap yang dinilai baik karena tidak membedakan perempuan berdasarkan status perkawinanya. Nilai “kesucian” “kemuliaan” seorang perempuan tidak diletakkan kepada keadaan fisik apalagi kegadisannya. Hal demikian berlawanan dengan perilaku masyarakat setempat yang merendahkan posisi seorang janda dan menilai perempuan berdasarkan status kegadisannya. Keempat, Nabi menikahi perempuan yang sangat aktif di ruang publik, punya waktu yang lebih banyak di ruang publik/di dunia usahanya dan hanya memiliki sedikit waktu di ruang domestik. Setelah menikah pun, Nabi tidak pernah membatasi ruang gerak Khadijah dalam dunia usahanya; Keenam, Khadijah sebagai kepala ekonomi keluarga, sementara Nabi Saw., berperan mendampinginya. Khadijah merupakan tulang punggung ekonomi keluarga Nabi Saw., bahkan Khadijah sebagai sumber finansial dakwah Nabi di Mekkah. Khadijah merupakan orang pertama yang beriman dan meyakinkan misi kenabiannya. Ketujuh, pernikahan Khadijah dengan Nabi Saw., berlangsung selama 25 tahun (28 SH); 15 tahun pertama Pra-Kenabian, dan 10 tahun pertama kenabian., dan selama itu, Nabi tidak pernah poligami. Karena itu banyak sekali hadis-hadis yang berisi pujian terhadap Khadijah, bahkan pujian itu secara langsung diabadikan dalam Al-Quran, dan berbagai literatur sejarah seperti yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, Imam Thabari, Ibnu Katsir, sebagaimana kami rujuk dalam tulisan ini.

Berikut adalah salah satu hadis yang populer tentang Khadijah ra sebagaimana diriwayatkan Aisyah.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا ذكر خديجة أثنى عليها فأحسن الثناء

“Dari Aisyah ra., dia berkata, ”Nabi Saw., ketika mengingat Khadijah dia pasti memujinya dengan pujian yang paling indah”. (HR. Bukhari)

 

Daftar referensi:

  1. Al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, 1423H/2002M, Shahȋh Al-Bukhâri, Dar Ibnu Katsir, Beirut – Lebanon.
  2. Al-Nisaburi, Abu Al-Husain Muslim ibn Al-Hajjâj Al-Qusyairi, 1427H/2006, Shahȋh Muslim, Dar Thayyibah, Riyadh – Saudi Arabia.
  3. An-Nawawi, Muhyiddin Abu Zakariya Yahya ibn Syarf, tt., Al-Minhâj fȋ Syarh Shahȋh Muslim ibn Al-Hajjâj, Baitul Afkar Al-Dauliyah, Yordania.
  4. Hisyam, Ibnu, 1410H/1990M, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, Darul Kutub Al-Arabi, Beirut-lebanon
  5. Ath-Thabari, Abi Ja’far Muhammad bin Jarir (w. 310H), tt., Tarkh Al-Thabari; Târîkh al-Rusul Wa Al-Muluk, Darul Ma’arif bi Mashri, Kairo – Mesir,
  6. Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, 1410H/1990, Al-Bidâyah wa Al-Nihâyah, Maktabah Al-Ma’arif, Beirut-Lebanon

Penulis merupakan Peneliti Rumah KitaB dan artikel ini pertama kali dipublikasikan di sini.

Feni Husna Alfiani: Support System untuk Menjalankan Bisnis sambil Bekerja Penuh Waktu

Husna Alfiani atau yang akrab disapa Feni ialah co-founder dari Maraca Books and Coffee, yang terletak tepat di pusat Kota Bogor. Konsep dari kafe ini adalah sebuah tempat ngopi yang dipadukan dengan koleksi buku-buku dari berbagai genre. Konsep tersebut diusung untuk menjaring pelanggan yang tersegmentasi; senang ngopi dan senang membaca. Kebetulan “maraca” sendiri berasal dari bahasa Sunda yang berarti “membaca bersama-sama”. Konon di kota Bogor belum ada tempat ngopi yang bisa meminjamkan buku (untuk dibaca di tempat) dalam satu tempat yang sama; dari situlah Feni terdorong untuk membangun usahanya.

Usaha tersebut ia rintis bersama dengan suami dan teman semasa SMA-nya. Husna membagi ceritanya mengenai tantangan dan hambatan dalam memulai bisnisnya. Saat memulai bisnis, uang menjadi tantangan dan hambatan tersendiri. Meski tidak banyak, modal yang dikeluarkan harus terus berputar. Sebab para karyawan yang bekerja menggantungkan penghasilannya pada usaha tersebut. Kemudian penting juga baginya belajar mengelola waktu, energi, dan sumber daya.

Ketika pandemi datang, coffee shop serupa Maraca sangat terdampak. Dengan kebijakan pemerintah seperti pembatasan kapasitas yang hanya boleh 50% dan penyesuaian jam operasional, penjualan pun menurun dan banyak hal yang perlu disesuaikan. Hal lain yang harus disesuaikan adalah administrasi; kontrak para karyawan, jam operasional, dan skema THP (take home pay) harus turut berubah. Selain itu, cashflow perlu diatur sedemikian rupa karena kapasitas coffee shop dibatasi hingga 50%.

Agar usaha tersebut dapat terus berjalan, Feni dan rekan bisnisnya sedikit beralih untuk menjual sembako, tokonya ia beri nama Toko Iboek dan melayani penjualan via Instagram dan marketplace. Toko sembako ini rupanya dapat membantu pemasukan dan membuat coffee shop yang ia rintis terus berjalan walau tertatih. Karena di masa pandemi ini, belanja kebutuhan pokok secara online rupanya menjadi salah satu alternatif guna mengurangi mobilitas.

Selain memiliki bisnis coffee shop dan toko groceries online, sebenarnya Feni sehari-hari setiap Senin-Jumat bekerja penuh waktu sebagai seorang karyawan. Feni kemudian membagi kisahnya sebagai seorang ibu, istri, pekerja, dan individu dalam keluarga. Ia adalah ibu yang bekerja penuh waktu dan pengusaha perempuan pertama dalam keluarganya. Di keluarganya, sebagian besar perempuan bekerja, namun belum ada satu pun yang menjadi pengusaha. Hal tersebut menjadi tekanan tersendiri karena ada pandangan dengan kesibukannya, apakah keluarganya dapat terurus? Mengingat Feni bekerja sebagai seorang karyawan dari pukul 09.00-16.00 setiap Senin-Jumat dan memiliki usaha coffee shop.

“Saya sangat beruntung memiliki keluarga dan suami yang tidak pernah membatasi ruang gerak saya sebagai Ibu, istri, dan individu.” Ungkap Feni.

Menurutnya, faktor pola pengasuhan dan latar belakang pendidikan menjadi pengaruh terbesar cara pandang keluarganya. Ia dan suaminya memiliki kesepakatan bahwa hanya ada tiga hal yang tidak bisa dilakukan oleh suaminya sebagai seorang laki-laki, yaitu hamil, melahirkan, dan menyusui. Sehingga mengurus anak dan rumah tangga jelas dapat dikelola bersama. Tidak ada yang bebannya lebih besar dan lebih kecil. Namun, pembagian tugas itu dibagi berdasarkan kemampuannya dan suaminya dalam mengerjakan sesuatu. Misal, Feni lebih baik dalam mengelola keuangan, dan suaminya lebih rapi dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, maka mereka membagi tugas secara merata sesuai dengan keahliannya masing-masing.

Memiliki support system merupakan hal yang disyukuri oleh Feni. Dengan berbagai kegiatan yang ia jalani, kerap ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul, apakah keluarganya akan terurus? Namun, komunikasi menjadi kunci bagi Feni. Ia berusaha berkomunikasi dengan orang tuanya yang juga tinggal dalam satu kota. Ketika tidak ada yang membantu mengasuh anaknya, orang tuanya bersedia hadir mendukung dan membantu keluarga kecil Feni. Suaminya juga saat ini bekerja sebagai seorang freelancer sehingga lebih memiliki fleksibitas jam kerja dibandingkan Feni.

“Terkait komunitas, saya lebih condong pada support system komunitas yang bukan berafiliasi agama.” Ujar Feni. Seperti saat ini, misalnya, Feni cukup aktif sebagai anggota komunitas Ibu Ibu Kota Hujan. Ia juga beberapa kali membuka kelas brush lettering untuk saling berbagi dengan perempuan-perempuan yang memiliki hobi sama. Coffee shop-nya sendiri, saat sebelum pandemi, kerap dijadikan lokasi acara-acara komunitas dengan beragam tema, seperti isu keuangan, parenting, hingga bedah buku.

Karena menurutnya hal tersebut menjadi satu faktor yang membuka sudut pandangnya dan keluarganya mengenai perempuan sebagai individu yang memiliki ruang untuk aktualisasi diri. Ia mendapatkan banyak hal dan pandangan-pandangan yang progresif dari beragam sudut pandang setelah ia menjadi relawan dalam berbagai kegiatan, membuat event, dan lain sebagainya.

Menurut Feni ada hal penting yang perlu digarisbawahi, yaitu menjadi perempuan pengusaha pertama di keluarga besar tidak serta merta membuat keluarganya tidak terurus. Menurutnya itu bisa dia jalani karena Feni dan suami saling bekerja sama sehingga komunikasi terbangun dengan baik dan lebih terbuka. Pembagian tugas dalam mengelola coffee shop terkelola dengan baik, begitu pun dalam mengurus anak dan rumah tangga.

Salah satu hal terpenting dalam menjalani bisnis dan bekerja penuh waktu adalah support system yang selalu mendukungnya. Baik itu berupa komunikasi positif, pembagian tugas domestik yang seimbang antara suami dan istri, juga komunitas Feni yang hadir dari beragam latar belakang sehingga membuatnya dan orang-orang di sekitanya lebih terbuka pada perbedaan dan keragaman.

If it is stupid but it works, it is not stupid”.